Pages

Tuesday, August 23, 2016

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM DAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

20 comments

Read more ►

Sunday, February 22, 2015

Komponen Pembelajaran

6 comments
Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang memiliki komponen-komponen yang terdiri dari input, proses, out put, dan umpan balik.  Saputro (2005:4) dalam bukunya strategi pembelajaran menjelasakan bahwa karakteristik komponen dasar pembelajaran meliputi input, proses, out put, dan umpan balik.

Read more ►

Saturday, August 30, 2014

Pembelajaran Terpadu

6 comments
A. Pengertian Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang memadukan/mengaitkan pokok bahasan pada minimal dua mata pelajaran atau lebih menjadi satu tema yang berkaitan studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.

Read more ►

Wednesday, April 23, 2014

Model model Pembelajaran Terpadu

4 comments
Pembelajaran terpadu menurut Robin Fogarty  (1991) terdapat  sepuluh model dalam merencanakan pembelajaran terpadu, yaitu :
 

1)Model Penggalan (Fragmented)
Model ini ditandai oleh ciri pemaduan yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran saja. Misalnya,dalma mata pelajaran bahasa Indonesia materi pembelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran ketrampilan berbahasa.
 

2)Model Keterhubungan (Connected)
Model Connected dilandasi oleh anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran seperti: kosakata, struktur, membaca, dan mengarang misalnya dapat dipayungkan pada mata pelajaran bahasa dan sastra.
 

3)Model Sarang (Nested)
Model Nested merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep ketrampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Misalnya, pada jam-jam tertentu guru memfokuskan kegiatan pembelajaran pada pemahaman bentuk kata, makna kata,dan ungkapan dengan saran pembuahan ketrampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya berfikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat ungkapan dan menulis puisi.
 

4)Model Urutan/Rangkaian (Sequenced)
Model Sequenced merupakan model pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara pararel. Isi  cerita dalam roman sejarah, misalnya: topik pembahasannya secara pararel atau dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik yang menyangkut perubahan makna kata.
 

5)Model Bagian (Shared)
Model Shared merupakan bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya overlapping konsep  atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Buir-butir pembelajaran tetang kewarganegaraan dalam PKn misalnya,dapat bertumpang tindih dengan butir pembelajaran Tata Negara, PSPB dsb.
 

6)Model Jaring Laba-laba (Webbed)
Model ini bertolakdari pendekatan tematis sebagai pemandu bahan dan kegiatan pembelajaran. Dalam  hubungan ini tema dapat mengikat kegaiatan  pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata pelajaran.
 

7)Model Galur (Threaded)
Model Threaded merupakan model pemaduan bentuk ketrampilan, misalnya: melakukan prediksi dan estimasi dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita, dsb. Bentuk model  ini terfokus pada meta kurikulum.
 

8)Model Keterpaduan (Integrated)
Model integrated merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat dalam pelajaran matematika,bahasa Indonesia, IPA,  dan IPS agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan, cukup diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya IPA
 

9)Model Celupan (Immersed)
Model Immersed dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan medan pemakaiannya. Dalam hal ini tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
 

10)Model Jaringan (Networked)
Model Networked merupakan model pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan perubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk ketrampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda.
Read more ►

Monday, May 13, 2013

PENGERTIAN PENDIDIKAN

3 comments

BAB I
APAKAH PENDIDIKAN ITU ?

A.      Arti beberapa istilah
Sebelum kita tinjau lebih lanjut apa yang dimaksud dengan pendidikan, terlebih dahulu perlu dijelaskan tentang dua istilah yang hampir sama bentuknya, yaitu paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan, sedangkan  paedagogiek  berarti ilmu pendidikan.
Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Pedagogic berasal dari kata Yunani paedagogia yang berarti “ pergaulan dengan anak-anak “. Paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang pada jaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah.
Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Perkataan paedagogos  yang mulanya berarti “ rendah “ (pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan yang mulia. Paedagog (pendidik atau ahli didik) ialah seorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri.   

B.       Apa yang dimaksud dengan Mendidik ?
a.         Mendidik adalah pengertian yang sangat umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejala pendidikan. Kebanyakan orang masih menganggap sebelah mata dan mudah dalam hal mendidik. Kebanyakan orang tua mendidik orang tuanya hanya berdasarkan atas pengalaman praktisnya saja dengan meniru perbuatan nenek moyangnya yang belum baik dan benar. Kepandaian dalam mendidik di anggap dengan sendirinya sudah dimilki oleh setiap orang dari pergaulannya dengan anak-anak. Dalam setiap situasi, “ intuitif “ akan mendapat sikap dan tindakan yang tepat. Jadi, mereka bekerja secara “ intuitif “ dan tidak mau mempelajari bagaimana cara mendidik secra ilmu pengetahuan dan teoritis. Akan tetapi, mendidik berdasarkan pengalaman-pengalaman (praktik) lebih banyak dan baik hasilnya daripada hanya berdasarkan pengalaman dan intuisi.
b.        Ada beberapa ahli yang mengibaratkan pekerjaan mendidik sama halnya dengan pekerjaan tukang kebun yang memelihara tanaman-tanamannya. Sama halnya dengan seorang pendidik terhadap anak didiknya yang berusaha membimbing atau memimpin pertumbuhan anak, baik jasmani maupun rohaninya. Seorang pendidik tidak dapat memaksa pertumbuhan anak sekehendaknya. Dalam pertumbuhannya, anak berkembang sendiri menurut tempo dan iramanya. Pendidik hanya dapat memimpin perkembangan anak dengan mempengaruhinya dari luar. Di sini jelas terlihat bahwa tiap-tiap tindakan pendidikan terhadap anak didiknya mengandung maksud tertent, ada tujuan yang hendk dicapai.
c.         Menurut uraian di atas, pekerjaan seorang pendidik dengan pekerjaan tukang kebun tidak dapat disamakan, karena pertumbuhan seorang anak tidak dapat disamakan dengan pertumbuhan tanaman. Tugas seorang pendidik tidak hanya “ membiarkan tumbuh “ anak didiknya, melainkan berusaha agar anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Anak atau manusia adalah makhluk yang memiliki kepribadian dan kesusilaan yang di anggap dapat dan sanggup hidup menurut norma-norma kesusilaan, dan dapat memilih serta menentukan apa yang akan dilakukan dan menghindari atau menolak yang tidak disukainya. Setiap anak meskipun berasal dari keluarga yang sama, tetapi mempunyai watak dan tingkah laku yang berbeda-beda. 

C.      Mengapa Anak Harus Dididik ?
a.         Dari uraian di atas, sangat jelas bahwa pertumbuhan seorang anak tidak dapat disamakan secara mutlak dengan pertumbuan tanaman. Dari pemahaman di atas, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dan tidak cukup hanya di jawab dengan satu–dua patah kata saja. Sebagai ontoh, dalam dunia hewan sering terjadi gejala-gejala aneh yang terkadang bertentangan dengan akal sehat, seperti bagaimana cara induk dalam menjaga anak-anaknya, bagaimana cara anak yang baru lahir menghindar dari induknya yang pemangsa, atau bagaimana cara induk dalam mendidik dan mengajari anak-anaknya untuk melakukan keahlian yang juga dimiliki oleh induknya. Jadi, berdasarkan beberapa contoh di atas dapat diketahui bahwa binatang juga “ mendidik “ anak-anaknya. Binatang juga memelihara dan mengajar anak-anaknya sampai dapat berdiri sendiri seperti induknya.
b.        Samakah pendidikan yang dilakukan oleh binatang dengan peniddikan yang dilakukan oleh manusia ?
Tentu saja tidak, karena manusia memiliki kelebihan dibandingkan dengan binatang. Binatang “ mendidik “ anak-anaknya secara instingtif. Kepandaian “ mendidik “ yang ada pada binatang bukan karena dipelajari dari binatang lain, melainkan kepandaian yang sudah ada pada tiap jenis binatang dan sifatnya tetap. Selain itu, kemampuan yang dimiliki oleh binatang yang lebih muda sudah ada dalam pembawaan dan akan berkembang dengan sendirinya tanpa pengaruh dari luar. Dalam psikologi, belajar yang seperti itu disebut belajar instingtif. Ada beberapa jenis binatang yang dapat di latih untuk melakukan sesuatu. Tetapi, hasil atau prestasi itu sifatnya tetap dan tertentu, artinya hanya dalam batas-batas tertentu insting tersebut dapat di  bentuk atau di ubah. Tindakan yang dilakukan terhadap binatang itu bukanlah  “ pendidikan “, melainkan “ dresur “.
c.         Dresur dan pendidikan. Apakah mendidik itu tidak boleh disamakan dengan tindakan-tindakan menjinakkan, mendresur, dan melatih binatang. Karena pendidikan juga menggunakan kecenderungan yang timbul pada masa perkembangan psikis, pendidik mengarahkan nafsu-nafsu bawaan pada tujuan yang lebih berguna, dan menentukan bentuk-bentuk tindakan instingtif yan boleh dilakukan. Pada tindakan insting, tidak terdapat pengertian tentang tujuan akhir dari tindakan tersebut. Lain halnya dengan yang terdapat dalam situasi pendidikan yang sesungguhnya, pendidik selalu beranggapan bahwa pada manusia muda terdapat benih-benih pemikiran dengan budi dan penentuan sendiri tentang baik dan buruk dari tindakannya. Dalam situasi dresur tidak terdapat kedua ciri tersebut.
d.        Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa dresur tidak dapat disamakan dengan pendidikan. Dengan kata lain, “pendidikan“ yang dilakukan terhadap binatang berbeda dengan pendidikan yang dilakukan terhadap manusia. Dalam beberapa hal memang terdapat persamaan yang terletak pada pertumbuhan biologisnya, seperti pertumbuhan jasmaniahnya. Sedangkan pada manusia harus diperhatikan pertumbuhan psikisnya. Binatang adalah makhluk alam yang tdak memiliki kebudayaan. Manusia adalah makhluk yang lebih tinggi daripada binatang, memiliki akal dan pikiran, serta termasuk dalam anggota masyarakat. Dengan adanya budi dan pikiran, manusia dapat menimbang dan memilih apa yang akan dilakukan dan tidak dilakukan. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai macam golongan, pekerjaan, maupun berbeda bahasa. Karena perbedaan tersebut, maka pendidika pada manusia lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Anak harus dididik agar dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakatnya. Semakin kompleks struktur masyarakat, maka semakin sulit dan lama dalam menyiapkan diri anak agar dapat hidup dalam lingkungan masyarakatnya. Dalam proses penyesuaian diri terhadap masyarakat, anak membuthkan pertolongan, pimpinan dari orang dewasa terutama orang tuanya.

Read more ►
0 comments

EVALUASI PEMBELAJARAN

Evaluasi merupakan salah satu dari tiga komponen besar dalam pembelajaran. Evaluasi berarti menempatkan nilai pada entitas tertentu, sehingga mengungkapkan indikasi nilainya.

Evaluasi dapat digunakan guru untuk: (a) sarana komunikasi keadaan prestasi siswa terhadap orang tua dan yang lainnya, (b) memberikan informasi kepada siswa untuk digunakan menilai diri sendiri, (c) memilih, mengidentifikasi atau mengelompokkan siswa dalam pendidikan atau program tertentu, (d) memberikan insentif dalam belajar, (e) mengavaluasi efektifitas program pembelajaran.

A. Proses Evaluasi Pembelajaran
1.Tujuan (umum) dan Tujuan (khusus)
Penetapan capaian tujuan (umum) dan tujuan (khusus) perlu dilakukan di awal evaluasi. Evaluasi bersifat kesinambungan, evaluasi pada suatu unit dapat berdampak pada perencanaan unit berikutnya. Perhatian perlu ditekankan pada penetapan tujuan khusus, terutama pada unit yang spesifik. Penulisan persentase pada tujuan umum dan khusus dapat membantu guru dalam melakukan evaluasi

2. Seleksi Isi
Dengan mengetahui isi dengan baik, dapat digunakan sebagai acuan menghubungkan silabus dan aktifitas siswa secara baik.

3. Pengumpulan Data
Evaluasi memiliki dua komponen, yaitu informasi prestasi atau kinerja dan standar memberikan dasar untuk pengukuran

4. Penerapan Standar
Guru harus menentukan bagaimana tingkat ketepatan dengan standar yang akan diukur dan skala yang tepat untuk mengekspresikan tingkat ketepatan

5. Pelaporan dan penggunaan hasil evaluasi
Guru, dapat menggunakan hasil evaluasi untuk membuat keputusan yang sesuai secara strategis. Murid dapat mengetahui hasil evaluasi untuk mengarahkan mereka bekerja lebih baik lagi dan memungkinkan untuk memberikan kepuasan atas upayanya



B.    Jenis Evaluasi Kelas
1.    Tes
a)    Essai
lebih berguna untukmengukur tingkat dalam pemikiran, yang meliputi analisis, sistesis, dan evaluasi. Namun essai relatif membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakannya dibandingkan dengan  tes pilihan ganda. Jadi hanya sebagian sampel terbatas dari pembelajaran yang dapat diukur dengan tes essai. Informasi faktual dan pemahaman dasar jauh lebih efisien diukur dengan tes pilihan ganda.
b)    Pilihan ganda
Pilihan ganda memiliki keuntungan mencakup banyak materi secara efisien, mudah diberi skor dan mudah untuk dipahami oleh siswa di kelas.
2.    Penilaian otentik
a)    Portofolio
Portofolio merupakan sebuah berkas atau lebih yang memuat hasil kerja yang telah disesuaikan oleh guru untuk memasukkan setiap koleksi yang dihasilkan pada pembelajaran. Tempat portofolio tersebut dapat dari map, kotak box, atau laci.portofolio memiliki dua karakteristik yang membuat bernilai dalam melakukan evaluasi. Pertama, dapat menyediakan keadaan perkembangan proses siswa. Kedua merepresentasikan kemampuan, keinginan dan prestasi siswa.
b)    Proyek dan Penyelidikan
Proyek dan penyelidikan dapat memberikan banyak pengalaman kepada siswa dan pada waktu yang sama dapat melihat secara detail perkembangan siswa
c)    Pengamatan dan Pertanyaan
Dari mengamati dan mendengarkan penjelasan siswa, guru dapat melakukan pengukuran atas kemampuan berfikir kritis siswa, dan pemahaman dalam berbahasa. Observasi dapat digunakan untuk mengukur kinerja antara lain: (1) proses berfikir, (2) pemecahan masalah, (3) ketekunan, (4) bekerja dalam kelompok kecil, (5) kemampuan berkomunikasi, (6) kreatifitas
d)    Wawancara dan konferensi
Untuk mengetahui apa yang diketahui siswa tentang belajarnya, guru dapat melakukan wawancara  dan konferensi bersama siswa secara individual. Pertanyaan pada wawancara dapat distrukturkan dan dihubungkan pada sebuah topik.

C.    Tujuan Evaluasi Kelas
1.    Evaluasi Diagnostik
Siswa di dalam kelas tentunya memiliki perbedaan masing-masing, tes diagnostik memberikan guru informasi yang berguna tentang siswa pada prestasi sebelumnya. Terdapat dua macam evaluasi diagnostik, pertama test untuk membandingkan keadaan siswa atau seluruh siswa dalam kelas dengan siswa normalnya. Dan kedua membandingkan dengan hasil pada prestasi sebelumnya
2.    Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah tes atau pendekatan lain untuk evaluasi yang diberikan pada waktu yang tepat untuk memberikan umpan balik kepada guru dan siswa tentang prestasi. Evaluasi ini berfungsi sebagai dasar bagi guru dalam memastikan efektivitas pembelajaran, membuat keputusan pertengahan kurikuler, menentukan dampak pembelajaran dan menentukan pengajaran kembali pada hal-hal yang masih diperlukan.
3.    Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif dilakukan pada penyelesaian sebuah unit belajar, dan tujuan utamanya adalah untuk menentukan sejauh mana setiap siswa telah mencapai unit tujuan umum. Evaluasi sumatif dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (termasuk ketikan kinerja, laporan tertulis atau presentasi secara kelompok) tapi biasanya dilakukan secara tes tertulis
D.    Tes Di Kelas
Setelah melakukan tes, maka dilakukan pensekoran. Nilai skor tidak ada artinya jika tidak dibandingkan dengan nilai rujukan atau referensi. Adapun nilai yang dijadikan rujukan ialah
1.    Referensi normal dengan menggunakan nilai rata-rata siswa pada tes tertentu
2.    Referensi kriteria dengan menggunakan nilai yang telah ditentukan guru. Biasanya di atur di atas rata-rata dan terkadang membuat nilai siswa di bawah rata-rata jatuh.
3.    Referensi siswa dengan menarget nilai semampu siswa dan dinaikkan secara bertahap
E.    Peringkat Siwa
Peringkat merupakan penyemangat siswa, memperoleh peringkat yang tinggi akan memberi pengalaman memuaskan bagi siswa, memperoleh peringkat yang rendah mungkin sangat mengecewakan. Tanda peringkat dari sekolah merupakan faktor penting dalam menentukan cerminan diri siswa
Read more ►

Wednesday, March 20, 2013

Kompetensi Inti, samakah dengan Standar Kompetensi?

Kompetensi Inti pada kurikulum 2013, samakah dengan Standar Kompetensi (SK) yang biasa kita temui di KTSP? Jika pada KTSP Standar Kompetensi akan menurunkan Kompetensi Dasar apakah Kompetensi inti pada kurikulum 2013 ini juga akan menurunkan Kompetensi Dasar (KD)?

Sepintas kelihatan sama jika kita melihat posisi SK (pada KTSP) atau Kompetensi Inti (Pada Kurikulum 2013) berada di atas KD. Jika kita melihatnya seperti itu, maka akan muncul pertanyaan, misal pada mata pelajaran matematika kok tidak ada ya kompetensi inti yang mencerminkan kompetensi mata pelajaran matematika? atau pertanyaan lagi kok turunan Kompetensi Dasarnya kelihatan dipaksakan ya, supayakah sesuai dengan kompetensi inti?

Sebetulnya jika kita memahami apa yang dimaksud kompetensi inti ini kita tidak akan menanyakan hal-hal tersebut. Ternyata kompetensi inti ini tidak dapat kita samakan dengan Standar Kompetensi (SK). Jika SK pada KTSP diajarkan kepada siswa, maka menurut pak menteri, kompetensi inti ini bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti.

Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antar mata pelajaran. Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat, menjadi kompetensi inti.

Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi Dasar adalah  keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar  satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara  konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi Dasar  dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.

Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Sumber:
Artikel dari Mohammad Nuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
(http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel-mendikbud-kurikulum2013)
Kemendikbud, Kompetensi Dasar untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah kurikulum 2013







Read more ►
 

Copyright © Belajarpendidikanku | Powered by Blogger