Pages

Tuesday, February 5, 2013

Struktur Kurikulum 2013 SD

Seperti yang telah diwacanakan oleh pemerintah melalui uji publik kurikulum 2013, struktur kurikulum di sekolah dasar akan mengalami perubahan, antara lain diterapkannya kembali pendekatan tematik pada semua kelas sekolah dasar, menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, mencipta), penyusunan kompetensi inti kelas dari standar kompetensi lulusan, mengintegrasikan IPA dan IPS pada semua mata pelajaran, meminimumkan jumlah mata pelajaran dan menambah jam mata pelajaran.

Struktur Kurikulum

Perubahan tersebut tidak didasari tanpa sebuah masalah, dalam mengajukan perubahan tersebut pemerintah telah mengajukan berbagai rasionalisasi perlunya dilakukan perubahan. namun jika sedikit dicermati, konsep perubahan yang dikatakan ideal tersebut juga sudah dicanangkan pada kurikulum 2006 (KTSP), seperti pendekatan tematik pada kelas rendah. Sudah menjadi rahasia umum selama ini, jika penerapan pendekatan tematik di kelas-kelas rendah masih belum maksimal, guru-guru tetap menggunakan pendekatan mata pelajaran, sehingga konsep-konsep yang terpotong-potong dari berbagai mata pelajaran serasa dipaksakan kepada siswa, padahal pada usia tersebut siswa masih mengganggap dunia ini sebagai kesatuan yang utuh.

Konsep perubahan yang tidak jauh berbeda dengan KTSP berikutnya adalah pendekatan sains dalam proses pembelajaran yaitu, mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, mencipta. Jika dicermati lebih lanjut ini adalah konsep taksonomi yang harus dikembangkan oleh guru pada tujuan pembelajaran (ketika selama ini RPP masih harus disusun oleh guru). Permasalahannya sebagian besar guru hanya menggunakan taksonomi paling rendah untuk diterapkan pada pembelajarannya.

Dalam hal penyusunan kompetensi yang harus dicapai siswa, selama ini polanya adalah penguasaan Standar Isi untuk mencapai standar kompetensi lulusan (karena SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan). Sayangnya selama ini standar isi yang merupakan standar minimal tersebut salah diartikan oleh sebagaian besar guru. Meski mereka mengerti Standar Isi merupakan standar minimal, namun mereka membuat seolah-olah Standar Isi adalah standar maksimal, sehingga hasilnya di bawah minimal. Hal ini bisa dilihat dari pengembangan tujuan pembelajaran, tujuan-tujuan tersebut masih mencakup ranah-ranah dasar taksonomi. Harapannya dengan menjadikan SKL sebagai acuan penentuan kompetensi inti akan menarik "di bawah minimal" tersebut minimal segaris dengan minimalnya.

Integrasi IPA dan IPS pada setiap mata pelajaran sedikit membuat kebingungan masyarakat, sebagian mengira IPA dan IPS "dihapus". Uji publik kurikulum yang diselenggarakan oleh pemerintah ternyata dijadikan jalan oleh masyarakat untuk memperjuangkan IPA dan IPS tetap eksis di sekolah dasar. Terbukti pemerintah tidak mengabaikan pendapat dari masyarakatnya, IPA dan IPS akan tetap ada pada kelas tinggi. Hal serupa juga terjadi pada muatan lokal, yang biasanya terdapat mata pelajaran bahasa daerah. Pada wacana sebelumnya muatan lokal akan dihapus, banyak masyarakat yang menganggap ini sebagai penggerusan budaya lokal pada pendidikan. Namun akhirnya, pemerintah tetap memberikan ruang pada bahasa daerah untuk tetap ada di sekolah dasar. Perihal penambahan jam yang dikarenakan proses pembelajaran dan penilaian diharapkan membawa hal positif.

Jika dibandingkan dengan KTSP, pada intinya, kurikulum baru ini bersistem terpusat. Entah ini sebagai kemunduran atau kemajuan. Kemunduran dalam artian pengekangan kreatifitas satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulumnya sendiri atau atau kemajuan dalam artian "memaksa" satuan pendidikan untuk minimal berada digaris "minimal", mengingat sebagaian besar satuan pendidikan saat ini masih dibawah garis minimal dengan mengartikan KTSP adalah batas maksimal.

Hasil Uji kurikulum 2013

Maju Pendidikan Indonesia.....

2 comments:

 

Copyright © Belajarpendidikanku | Powered by Blogger